Senin, 27 Januari 2014

JEMBATAN DENDENGAN PUTUS

Manado – Pasca banjir bandang yang terjadi di Kota Manado dan menyebabkan sejumlah sarana jalan serta jembatan rusak. Salah satunya jembatan Dendengan yang amblas akibat terjangan banjir.
Dampak dari jembatan yang saat ini belum dilalui kendaraan ini, angkot jurusan pusat kota (Pasar 45) menuju Dendengan Dalam (Dendal) tidak beroprasi. Sehingga masyarakat setempat merasa kesulitan berpergian untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari seperti bahan makanan dan sebagainya.
“Jalur untuk mikro kamari, lewat jembatan Dendengan. Karna putus, nyanda ada mikro yang tembus kamari. Torang susah mo kamana-kamana ato pi beli bahan makanan. Ojek leh pe susuah, kalo pun ada depe harga dapa tako depe makal,” ujar Ibu Narti, warga Dendengan Dalam lingkungan VII ini Selasa (28/1/2014)
Sumber : beritamanado

RSUD Noongan Tolak Pasien

LANGOWAN, : Pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Noongan kembali mendapat sorotan. Pasalnya, petugas medis di rumah sakit pemerintah ini menolak salah seorang pasien yang hendak berobat di Rumah Sakit tersebut, pada Minggu (26/1/2014) malam.

Berti Gerungan, keluarga pasien yang datang membawa ayahnya yang sakit gagal ginjal dengan maksud untuk mendapatkan perawatan di Rumah Sakit tersebut terpaksa harus beradu mulut dengan para petugas karena merasa tidak puas dengan pelayanannya.

Menurut pengakuannya, peristiwa tersebut bermula saat dia bersama keluarganya datang membawa ayahnya untuk berobat ke Rumah Sakit tersebut. Sesampai di UGD, mereka pun langsung menjelaskan pada tenaga medis tentang maksud kedatangannya. Namun tidak seperti yang diharapkan, tanpa terlebih dahulu memeriksa kondisi pasien, seorang dokter malah menolak dengan alasan tidak ada ruangan kosong untuk pasien.

“Dokter di UGD langsung menyuruh kami untuk membawa ayah kami ke rumah sakit lain. Padahal kondisi ayah kami sedang sekarat dan sangat membutuhkan perawatan. Diterima atau tidak, seharusnya dokter memeriksa dulu keadaan pasiennya dan bukan menolak mentah-mentah,” ujarnya geram.

Yang lebih disesalkannya lagi, setelah di cek oleh keluarganya, ternyata masih ada satu ruangan kosong untuk pasien di ruangan VIP. Namun setelah ditanyakan, para perawat jaga di ruangan tersebut mengatakan bahwa ruangan itu sudah di booking khusus oleh Direktur Umum Rumah Sakit tersebut.

“Ini rumah sakit tapi seperti hotel saja yang ruangannya bisa dibooking. Seharusnya pihak rumah sakit harus mengutamakan pelayanan bagi pasien yang sudah datang untuk berobat dan bukan mementingkan seseorang karena jabatannya,” kata dia.

Sementara itu, Direktur Umum RSUD Noongan, dr Inggrid Giroth M.Kes saat dikonfirmasi terkait hal ini membantah dengan tegas soal pernyataan dari para perawat jaga bahwa dirinya telah membooking salah satu ruangan di Rumah Sakit tersebut. Menurutnya, dirinya berkomitmen untuk memberikan pelayanan maksimal bagi masyarakat dan tidak pernah memberikan perintah untuk menyediakan ruangan pasien yang khusus untuk keluarganya.

“Itu pernyataan orang gila. Saya tidak pernah menyuruh siapapun untuk menyediakan ruangan khusus untuk saya ataupun keluarga saya. Nanti akan saya cari tahu dan tindaki siapa petugas yang telah memberikan informasi keliru tersebut,” ujarnya. (Jeksen Kewas)

Foto : RSUD Noongan
Sumber : Manadoexpress.com

Kamis, 23 Januari 2014

Korban Banjir Di Manado Mulai Terserang Penyakit

Manado - para pengungsi korban banjir bandang Manado, Sulawesi Utara, sudah mulai berkurang. Namun, kini beberapa jenis penyakit mulai menyerang, seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), DIARE, penyakit kulit, dan luka-luka lainnya.

Saat ini kebutuhan warga yang mendesak adalah air bersih, pembersihan lingkungan, sandang, layanan kesehatan pascabanjir, dapur keluarga, peralatan makan, perlengkapan tidur dan peralatan MCK lainnnya."Penyakit menonjol ISPA, dermatitis, luka tusuk dan maag," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, Rabu 22/1/2014).

"BPBD Sulut meminta pengiriman kaos lengan panjang BNPB lagi sekitar 1.500 buah untuk para petugas lapangan (TNI 1.180, BPBD kota 100, BPBD provinsi 100, BPBD Tomohon 60, BPBD Minahasa 60)," papar Sutopo.
Para korban banjir Manado juga mengusulkan pengiriman bantuan berupa perlengkapan masak keluarga dan penambahan paket kesehatan keluarga serta family kit.
 "Bantuan logistik dan peralatan dari presiden sebagian sudah langsung didistribusikan ke masyarakat," jelasnya.
Sementara kondisi banjir saat ini sudah surut hanya saja menyisakan lumpur yang cukup tebal. Guna pembersihan lumpur tersebut, hari ini Gubernur Sulut Sinyo Sarundajang akan memimpin langsung apel pembersihan lingkungan massal.

Minggu, 12 Januari 2014

Pembunuhan sadis di Kota Bitung


Bitung - Pelaku pembunuhan sadis dua bocah cilik di Desa Winenet Kecamatan Aertembaga, Bitung, terancam hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Pasalnya, perbuatan pembunuhan yang dilakukan oleh terdakwa berpotensi dengan hukuman pidana seumur hidup.

“Pelaku dijerat dengan pasal 338 KUHP soal pembunuhan yang dengan sengaja menghilangkan nyawa orang serta pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Ancaman hukumannya bisa seumur hidup,”

Pelaku yang berinisial AR alias Rivai alias Nyong (17) diamankan aparat Buser Polres Kota Bitung pada Jumat (10/01) sekitar pukul 19.00 malam di Desa Winenet Kecamatan Aertembaga. Saat ditangkap aparat, pelaku tidak berusaha untuk melawan.

Selain menangkap tersangka, aparat Polres Bitung juga mengamankan barang bukti berupa sebilah pisau yang digunakan tersangka untuk menggorok dan membacok korban.

Sumber : Manadoexpress.com

Mesin Jagung Sosongian TUMPAAN Masuk Enam Besar


tumpaandua.blogspot.com - Minahasa Selatan kembali menorehkan prestasi lewat produk dari kreatifitas warganya khususnya IKM Sosongian Tumpaan dengan produk gilingan jagung dengan tiga produk sekaligus, setelah berhasil menjadi juara pertama pada pameran UKM Sulut, saat mewakili Sulawesi Utara pada konvensi gugus kendali mutu (GKM) IKM se Indonesia di Jogjakarta, mereka juga berhasil membawa prestasi dan masuk dalam enam besar terbaik.

Namun yang dibawa dalam konvensi yang di gelar di gedung Inna Garuda Jogja, 12 hingga 15 November tersebut adalah miniatur dari gilingan yang mereka ciptakan tersebut, tapi bisa dioperasikan. Sontak munculnya alat tersebut, menjadi pusat perhatian dari peserta yang hadir.
"Kami bersyukur, bisa masuk enam besar kategori elma atau nilai tertinggi pada konvensi IKM yang dibuka oleh Menteri Perindustrian tersebut," jelas Dekky Tuwo Kadisperindagkop Minsel, Minggu (17/4).

Ia menambahkan, alat penggiling yang mereka bawa tersebut, masuk kategori inovasi baru atau pertama di Indonesia."Makanya ini mendapat perhatian khusus, sebab meski yang kami bawa adalah miniaturnya, namun bisa dioperasikan, beda dengan yang lain," ujar dia.
Bahkan Euen Faedah Dirjen IKM Kementerian Perindustrianpun kepincut."Beliau meminta agar kami segera mungkin membuat hak paten, dan mereka siap membantu," ujarnya.

Sumber : TRIBUNMANADO.CO.ID

Minggu, 15 Desember 2013

Tumpaan Utama Pecahkan Rekor Nasional

tumpaandua.blogspot.com - Tim Tumpaan Utama, Minsel menorehkan rekor dalam Aqua Danone Nations Cup (DNC) 2013. Kumpulan pesepakbola junior ini mencatatkan diri sebagai tim pertama yang menjuarai final lokal DNC dua kali berturut.

Minggu (10/02/12), Tumpaan Utama keluar sebagai juara DNC 2013 Manado setelah mengalahkan Forza Buha, Manado dengan skor 1-0 di Stadion Klabat Manado. Sukses ini mengulang kisah serupa tahun lalu. Tumpaan Utama menang atas PS Maesa Manado.

Bermain di bawah guyuran hujan deras, kedua tim sulit mengembangkan permainan. Selama 10 menit babak pertama, bola lebih banyak di lapangan tengah. Beberapa titik lapangan yang tergenang dan berlumpur menyulitkan anak-anak ini bermain lepas.

Masuk babak kedua, anak-anak Tumpaan Utama besutan Martin 'Odang' Umboh mulai mendominasi permainan. Sejumlah peluang gagal berkat kesigapan penjaga gawang Forza.

Adalah sang kapten tim, Sandy 'Ungke' Mokalu yang jadi pahlawan. Menit kedelapan babak kedua, lewat sepakan tendangan bebasnya, Ungke memecah kebuntuan. Lesatan bola tendangan kaki kanan Ungke melengkung indah tak terjangkau kiper dan menghujam pojok kiri gawang. Gol semata wayang ini tercipta setelah terjadi pelanggaran terhadap pemain Tumpaan Utama di sisi kiri pertahanan Forza.

Prestasi ini, kata Odang Umboh, tak lepas dari kedisiplinan dan ketekunan. Sejak kandas di final nasional Juni tahun lalu, Odang tetap rutin melatih anak-anak. "Kami latihan dua kali seminggu, Sabtu-Minggu. Akhir pekan karena anak-anak tak sekolah," katanya.

Ia bangga karena materi tim beda dari tahun sebelumnya. Dari 11 pemain, hanya Ungke, Gerald dan Juniver yang merasakan sukses juara tahun lalu. Sisanya, pemain binaan generasi baru.

Tumpaan Utama akan mewakili Sulut di
Final Nasional, 29 Mei-3 Juni. Mereka akan bertarung dengan finalis dari 14 kota. "Semua biaya akomodasi transportasi ditanggung Danone," ujar Vebby Intan, Brand Direktur Aqua Danone Indonesia usai penyerahan hadiah. Juara nasional berhak mengikuti Final DNC 2013--yang dikenal sebagai Piala Dunia Anak-anak-- di London.

Ia menegaskan, DNC bukan soal menang atau kalah, tapi mengajarkan sportivitas, kegembiraan, solidaritas dan kemanusiaan pada anak-anak. "Kalian yang hari ini belum juara, jangan putus asa, teruslah bermimpi," tukasnya. Setiap tahun, DNC melibatkan talent scout (pemandu bakat) dari Persib Bandung dan PSM Makassar.

DNC tahun ini berlangsung di 15 kota yang meng-cover 22 provinsi di Indonesia. Pihak Danone berupaya dari tahun ke tahun kota penyelenggara bertambah. Akhirnya bisa merata berlangsung di seantero Indonesia.(***)

Hasil DNC 2013 Manado

Juara Tumpaan Utama, Minsel
Runner-up Forza Buha, Manado
Juara III Aruman Jaya, Kota Kotamobagu
Juara IV Persbitou
Tim Fair Play Maesa Sulut
Editor: Andrew_Pattymahu

Sabtu, 14 Desember 2013

Sejarah desa tumpaan





Desa Tumpaan terletak di dataran rendah dekat pesisir pantai Teluk Amurang, Minahasa Selatan Sulawesi Utara. Kira-kira 65 km dari kota Manado. Ada tiga sungai yang mengapit desa Tumpaan, sungai Walaimbang sebelah Timur dan Sungai Sosogian sebelah Selatan dan sunagi Ranotuana sebelah Utara. Nama desa Tumpaan dari segi etimologinya berasal dari kata Pakatumpaan dari bahasa Tontemboan, yang artinya “Tempat dimana orang yang dari gunung turun”.

Dikisahkan pada sekitar tahun 1450 datanglah orang-orang dari pegunungan Soputan yaitu antara Tombasian Atas atau “Tou in Wasian” dan Ranolambot. Penduduk dari kedua desa ini mempunyai hubungan yang baik, karena mereka sama-sama meyakini “Dotu Karengis” sebagai seorang gagah pemberani yang dapat memimpin mereka dari segala tantangan, baik binatang buas maupun orang-orang Mindanau yang datang berniaga tapi menghalau penduduk Minahasa. Mereka datang dari sebelah utara sebagai Bajak Laut dan ingin merebut tanah Minahasa.
Kemudian penduduk yang tinggal antara Tou in Wasian dan Ranolambot ini sepakat untuk mencari pemukiman baru karena merasa kehidupan di pegunungan tidak begitu lumayan, dan mereka di bawah pimpinan sang Dotu Karengis menuju kepemukiman Pakatumpaan.
Suatu ketika Dotu Karengis sedang mengejar orang Mindanao, tibalah ia di satu tanah/dataran yang luas dan timbulah keinginannya untuk bermukim di sana. Jadi Dotu Karengislah yang pertama menemukan dataran itu.
Dikisahkan tentang keperkasaan Dotu Karengis dimana saat berkunjung ketempat pemukiman orang Tuud in Wasian, tiba-tiba ia diserang oleh orang-orang Mindanau.Penduduk pemukiman Tuud in Wasian tidak begitu mengenal Dotu Karengis, oleh karena itu mereka kurang yakin apabila Dotu Karengis dapat membantu mereka mengalahkan orang-orang Mindanao. Terpaksa mereka meninggalkan pemukiman mereka dan lari kepegunungan. Malahan sebaliknya tou Tuud in Wasian agak curiga bahwa Dotu Karengis adalah salah seorang dari suku Mindanao yang diberi tugas sebagai mata mata atau pengintai.
Peristiwa ini sangat menyinggung hati Dotu Karengis namun tidak menimbulkan dendam terhadap tou Tuud in Wasian. Selanjutnya kepada orang pemukiman Patumpaan dianjurkan untuk bersahabat baik dengan Tou Tuud in Waisan.
Untuk membuktikan bahwa Dotu Karengis bukanlah pengintai orang Mindanao sebagaimana dugaan pemukiman Tou Tuud in Wasian, maka Dotu Karengis memanggil 6 orang terkuat diantara orang pemukiman Patumpaan lalu mereka berperang mengusir orang-orang Mindanao. Banyak orang Mindanao yang korban, sedangkan sebagiannya lari ke arah tepi pantai dan melarikan diri dengan perahu layarnya. Dotu Karengis mengajak teman-temannya segera pulang dan singgah di tempat tinggalnya. Keenam teman itu membuat suatu pernyataan akan hidup dan tak akan berpisah dengan Dotu Karengis. Di situlah awal kepercayaan Tou Tuud in Waisan bahwa Dotu Karengis dapat menjamin keamanan dan kententraman mereka.
Pada umumnya penduduk pemukiman Patumpaan menjadi semakin bertambah saat Tou Tuud in Wasian bergabung dan menetap bersama. Dotu Karengis ditetapkan sebagai pemimpin mereka, dan saat itu pula Dotu Karengis menamakan pemukiman itu PATUMPAAN.
Umumnya adalah pekerjaan mereka adalah petani. Namun beberapa saat kemudian mereka berpindah lagi, secara bersamaan menuju tempat pemukiman yang baru meninggalkan pemukiman Patumpaan. Tempat tinggal itu tidak jauh dari pemukiman yang lama, kira-kira 2 km di sebelah Timur pemukiman yang lama, yang kemudian diberi nama Tanukota. Sekarang tempat tinggal itu lebih dikenal dengan MAWALE, yang terletak menyusuri sepanjang sungai Sosongian. Kemudian di tempat itu pula datang sejumlah besar orang dari pegunungan dan menentap di sana.
Kehidupan orang-orang di sana suka berpindah pindah, dan terjadilah pemukiman baru yaitu sebelah utara 1 km dari Patumpaan yang kemudian diberi nama TINUNDEK (sekarang desa Matani). Di tempat pemukiman yang baru ini hasil pertaniannya cukup lumayan. Namun begitu ternyata keadaan kesehatan tak memungkinkan mereka harus bertahan.
Pada pemukiman Tinundek ini, ternyata banyak juga orang dari pegunungan turun kesana mencari nafkah.Di antara rombongan itu diantar oleh 2 orang kuat dan perkasa yaitu Dotu Tangkere dan Dotu Roring. Rombongan ini datang dari Sumonder lalu bergabung dengan orang Tinundek.
Suatu peristiwa yang tak terlupakan pada tanggal 7 April 1574 kedua Dotu yang datangnya dari Sumonder itu mengajak rombongannya berpindah pemukiman. Ajakan itu diterima baik oleh sebagian saja. Malahan ternyata yang ikut berpindah sebagian datang dari Sumonder, sebagian lagi dari pemukiman asli Tinundep.Tetapi kepindahan ini bukan mencari lokasi yang baru tetapi kembali kemukiman yang lama yaitu Patumpaan dan kemudian menetap di sana.
Lama kelamaan pemukiman Patumpaan menjadi semakin ramai dan pada akhirnya orang yang menetap di Tinundep pindah lagi dan hidup bersama sama di pemukiman Patumpaan. Semakin ramainya pemukiman Patumpaan, semakin besar pula minat orang-orang Mindanao menyerang pemukiman Patumpaan. Namun berkat kerja sama dan keberanian serta ketangkasan ketiga Dotu itu; Dotu Karengis, Dotu Tangkere dan Dotu Roring maka serangan orang-orang Mindanao dapat dilumpuhkan dan dihalau sehingga mereka tak kunjung menyerang lagi. Dan kini orang-orang pemukiman Patumpaan hidup tentram dan aman.
Tersebutlah Dotu Roringlah yang Tumanik in doong in Patumpaan. Artinya: DOTU RORING INILAH YANG MENDIRIKAN KAMPUNG PATUMPAAN.
Keramain pemukiman Patumpaan semakin bertambah dan menjadi bandar yang ramai untuk saling beli-membeli, tukar-menukar, menangkap ikan. Yang sebagian di pesisir menjadi nekayan, sebagian lagi menjadi petani,kebun dan sawah.
Setelah didirikannya kampung Patumpaan, maka disatu peristiwa orang-orang Patumpaan sepakat mengangkat kepala kampung (TONAAS).Setelah diangkatnya kepala kampung maka sistem perintahan terbentuk dan kehidupan semakin membaik.
Banyak bangsa asing datang ke Patumpaan di antaranya bangsa Portugis dan Spanyol (benteng peninggalan Portugis masih terdapat di sekitar pesisir pantai Tumpaan sebelah utara, dekat bekas pelelangan ikan).

Selang beberapa tahun bangsa Portugis dan Spanyol menetap di Patumpaan, mereka mengajurkan peduduk Patumpaan untuk menanam kopi. Pekerjaan ini dipimpin langsung oleh kepala kampung/Tonaas. Sebagai lokasi penanaman dipilihlah kebun/tanah ynag terletak disebelah timur kira-kira 3 km dari desa Patumpaan, menyusuri sungai Sosongian. Sepeninggal bangsa Spanyol dan Portugis penduduk Patumpaan tak begitu menghiraukan tanaman kopi. Bekas lokasi tanaman kopi itu diberi nama Pakopian untuk mengenang sejarah penanaman kopi.
Akhirnya lambat laun penduduk Patumpaan lebih mengenal menamam pohon kelapa. Hingga pohon kelapa menjadi sumber mata pencaharian dan keuangan sampai sekarang.
Berdasar hasil musyawarah disepakatilah nama desa Pakatumpaan disempurnakan sesuai dengan perkembangan bahasa mnenjadi “TUMPAAN” peristiwa ini terjadi pada tahun 1800, sedangkan sebutan Tonaas lambat laun hilang setelah semakin terbiasanya penduduk memakai nama Hukum Tua.

Catatan penulis:
Tulisan ini didapat dari tulisan bapak A.M Kawatu yang pernah menjadi kepala sekolah SD Inpres Tumpaan Satu pada tahun 1988 dengan pengumpul data saudara Yahya Santi guru pembantu SD Inpres Tumpaan Satu. Saya sendiri mendapatkan salinan ini berkat bapak guru Rumengan.

Sumber http://sammymamoto.blog.friendster.com/2006/08/history-of-tumpaan.htm